PENTINGNYA MENABUNG

PENTINGNYA MENABUNG
BERGABUNGLAH DENGAN ASURANSI SINARMAS MSIG DEMI CITA - CITA

Rabu, 03 Februari 2016

Daptar Pencarian Orang ( DPO )






Bagi yang mengenali orang dengan gambar dibawah ini,yang memakai jaket hitam
Tolong hubungi : 085795744094 atau 082321851234






Senin, 18 Januari 2016

Desain Kaos

blakang baju THE BIG FAMILY warnana ku warna pelangi anu kwas WordArt th, tulisan SLANKER MAJALENGKA KOTA na ku warna koneng, trus kata2 nu d handapena
LOE GAK SUKA SLANK GUE GAK SUKA LOE !!! trus d tangan kiri pake bndera indonesia jng d punduk pke lambang anak malam, panghandapna biasa pke lambang2 gol.SRT Rmah TaKhfidz dll..

Sabtu, 17 Oktober 2015

TUGAS TAMBAHAN DIKLAT CPNS

NO
URAIAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI
KEGIATAN
TARGET
REALISASI
NILAI
KETERANGAN
1
2
3
4
5
6
7

1.       memberikan asuhan keperawatan kepada individu, melaksanakan pengkajian keperawatan berupa pengkajian dasar individu


2.       merencanakan tindakan keperawatan sederhana pada individu

3.       melaksanakan tindakan keperawatan sederhana pada individu




4.       melaksanakan konsultasi evaluasi keperawatan sederhana pada individu


5.       melakukan penyuluhan kepada individu





6.       melakukan tugas limpah


7.       tugas kunjungan pembinaan keluarga/kelompok masyarakat didaerah sulit transfortasi
·         Melaksanakan pengkajian keperawatan berupa pengkajian dasar pada pasien,pemeriksaan fisik,tanda-tanda vital dan mengkaji aspek bio,psiko,sosial,dan spiritual

·         Membuat rencana tindakan keperawatan pada pasien berdasarkan hasil pengkajian

·         melakukan tindakan keperawatan pada pasien berdasarkan rencana pada saat pengkajian

·         melakukan evaluasi terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien dan melakukan konsultasi lanjutan
·         memberikan informasi kesehatan kepada pasien dengan menjelaskan bagaimana cara mengatasi masalah kesehatan yang diderita pada saat melaksanakan askep

·         memeriksa pasien berdasarkan tugas limpah dari dokter

·         penyuluhan kepada masyarakat di desa tentang higiene dan sanitasi, di Posyandu,dan di Posbindu.
2 pasien / hari









4 rencana / hari




4 tindakan / hari







4 tindakan / hari





6 pasien / hari







6 pasien / hari


2 desa / minggu





Selasa, 07 Juli 2015

KEGIATAN - KKEGIATAN SLANK FANS CLUB MAJALENGKA
PERIODE 2013 - 2015

1. PROSES PEMILU KETUA SFC 2013-1015




1.ANNIVERSARI SFC MAJALENGKA KE - 9 TAHUN







2.NGABUBURIT,BUKBER  DAN SILATURAHMI BARENG KOMUNITAS






3.TIM HADROH / MARAWIS


5.PERSIAPAN ANNIVERSARY KE 10 TH SFC MAJALENGKA



STRUKTUR ORGANISASI SLANK FANS CLUB MAJALENGKA

1. SFC PUSAT ( PULAU BIRU MANAGEMENT )
2. SFC DAERAH PROVINSI ( PAGUYUBAN SLANKER JAWA BARAT / PSJB )
3. SFC KABUPATEN ( SLANK FANS CLUB MAJALENGKA )
4. SFC RANTING / KECAMATAN ( KORWIL )

DIVISI - DIVISI SLANK FANS CLUB MAJALENGKA
1. DIVISI PENGAMANAN DAN PENGAWALAN ( BIDADARI PENYELAMAT )
2. DIVISI RIDER / PENGAWALAN
3. DIVISI KEROHANIAN / KEAGAMAAN

Rabu, 15 April 2015

Laporan Pelaksanaan Fogging ( Pengasapan ) Pemberantasan DBD Di Wilayah Kerja Puskesmas Rajagaluh

 1. Latar Belakang

Situasi penyakit DBD di Kabupaten Majalengka semakin meningkat. Sejak awal tahun ini saja jumlah penderita DBD di Kabupaten Majalengka sudah mencapai 89 orang. Dari jumlah tersebut tiga di antaranya meninggal dunia. Jika dibandingkan sepanjang 2014, angka penderita DBD tercatat sebanyak 118 orang dengan jumlah meninggal dunia sebanyak empat orang. Harus benar-benar diwaspadai karena awal tahun ini saja angka penderita DBD di Kabupaten Majalengka sudah cukup tinggi. Curah hujan di Kabupaten Majalengka saat ini cukup tinggi. Tingginya curah hujan bisa menyebabkan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk pembawa penyakit DBD. 
Jumlah penderita DBD di Puskesmas Rajagaluh pada bulan Januari sampai dengan bulan Februari 2015 terdapat peningkatan jumlah kasus yaitu pada bulan Januari sebanyak 3 kasus dengan positif dengue,dan 4 kasus pada bulan Februari. Jumlah kasus DBD pada bulan maret sampai tanggal 18 Maret 2015 sebanyak 3 kasus diantaranya di Desa Rajagaluh kidul 2 kasus dan di Desa Rajagaluh sebanyak 1 kasus. Sedangkan jumlah tersangka DBD dengan jumlah trombosit kurang dari normal sebanyak 5 kasus yang dirawat di ruang perawatan dan 1 kasus yang dirujuk.
Pelaksanaan penanggulangan DBD secara umum dapat dibagi dalam tiga wilayah: endemis, sporadis dan potensial bebas. Pemberantasan vektor masih harus dilakukan dengan cara fogging foccus, abatisasi masal dan PSN dengan cara gerakan 3M. Penyuluhan dengan cara gerakan bulan bakti 3M dilaksanakan oleh kader POKJA setempat seminggu sekali sejalan dengan gerakan Jum’at bersih. Berdasarkan data dari Propinsi menunjukkan adanya kecenderungan pergeseran kasus dari usia anak-anak menjadi usia lebih dewasa.
Fogging adalah tindakan pengasapan yang dilakukan untuk memberantas nyamuk demam berdarah, malaria dan atau sejenisnya. Disini kami akan coba meluruskan persepsi bagaimana fogging itu seharusnya dilakukan. Sebab sebagian besar masyarakat belum mengetahui tentang prosedurnya dan beranggapan bahwa dengan pelaksanaan fogging masalah Demam Berdarah Dapat diatasi dengan baik. Ada  perda yang mengatur berkaitan dengan penanggulangan demam berdarah, fogging memiliki aturan tersendiri agar lebi efektif dan tidak berakibat buruk kepada masyarakat atau lingkungan.
Fogging sebenarnya merupakan jurus pamungkas dari sebuah kondisi dimana disuatu daerah terdapat kasus DBD atau memenuhi kriteria tertentu sebagi berikut :
1.    Terdapat laporan kasus DBD dari Desa atau Rumah Sakit
2.    Ada pemberitahuan dari Desa atau Rumah Sakit Setempat
3.    Puskesmas menindaklanjuti laporan dari desa dengan penyelidikan Epidemiologia, memeriksa jentik pada radius 100 m
4.    Apabila hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) menyebutkan ada penderita DB yang lain dan atau ditemukan 3 tersangka serta ditemukan 5 % rumah terdapat Jentik nyamuk, maka puskesmas akan meneruskan permohonan fogging ke Dinas Kesehatan.
5.    Tetapi apabila hasil PE tidak sesuai dengan kriteria diatas, maka puskesmas akan menindak lanjuti dengan PSN, pemberian abate dan Penyuluhan TANPA DILANJUTKAN FOGGING.

2. Tujuan Pelaksanaan Fogging
Tujuan pelaksanaan pengasapan ( fogging ) adalah Memberantas nyamuk dewasa yang merupakan vektor penyebab dari kejadian DBD.


 3. Waktu, Tempat dan Biaya Kegiatan
Waktu                      : Tanggal 19 – 21 Maret 2015
                                : Jam 09.00 wib s/d Jam 15.00 wib
Tempat                    : Blok Kabuyutan Desa Rajagaluh Kidul
                                : Blok Desa Rt 07 Rw 03 Desa Rajagaluh Kidul
                                : Blok Dangdeur Desa Rajagaluh Kidul
                                : Blok Desa Rt 02 Desa Rajagaluh Kidul
Biaya                      : Untuk pelaksanaan kegiatan Fogging di Desa Rajagaluh Kidul dibiayai dari swadana dan swadaya masyarakat dengan dikelola oleh pemerintah Desa setempat.

4.Dokumentasi Kegiatan ( Fogging,Penyelidikan Epidemiologi, Penyuluhan PSN)








Sabtu, 06 September 2014

Forum Tenaga Kesehatan Desa Tanjungsari

A. Latar Belakang
  
Potensi desa dapat terbagi dalam dua macam yaitu :
  1. Potensi Fisik
    a)  Tanah mencakup berbagai macam kandungan kekayaan yang terdapat di dalamnya.misalnya kesuburan,tanah,bahan tambang,dan mineral.
    b)  Air meliputi sumber air dan fungsinya sebagai pendukung kehidupan manusia.air sangat dibutuhkan oleh setiap mahkluk hidup untuk bertahan hidup dan juga aktivitas sehari-hari.
    c)   Iklim sangat erat kaitannya dengan temperatur dan curah hujan yang sangat mempengaruhi setiap daerah, sehingga corak iklim sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat desa agraris.
    d)  Ternak berfungsi sebagai sumber tenaga dan sumber gizi bagi masyarakat pedesaan.pada desa agraris, ternak juga dapat menjadi investasi dan sumber pupuk.
    e) Manusia merupakan sumber tenaga dalam proses pengolahan lahan petani, sehingga manusia sebagai potensi yang sangat berharga bagi suatu wilayah untuk mengelolah sumber daya alam yang ada.

    2.Potensi Nonfisik
    a.  Masyarakat desa cirinya memiliki semangat kegotongroyongan yang tinggi dalam  ikatan kekeluargaan yang erat (gemeinschaft) merupakan landasan yang kokoh bagi kelangsungan program pembangunan.
    b.  Lembag-lembaga sosial,pendidikan,serta organisasi sosial desa.Lembaga-lembaga tersebut banyak memberikan pembinaan dan arah bagi perkembangan dan pelaksanaan pembangunan desa dalam meningkatkan taraf hidup warganya.lembaga-lembaga sosial yang terdapat di desa,antara lain yaitu lembaga:
    • Pemerintahan, seperti Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
    • Pendidikan, seperti perpustakaan desa, kelompencapir, penyuluhan, simulasi.
    • Kesehatan, seperti puskesmas, posyandu, dan BKIA.
    • Ekonomi, seperti Koperasi Unit Desa (KUD) dan lumbung desa.
    c.  Aparatur dan pamong desa merupakan sarana pendukung kelancaran dan ketertiban pemerintahan desa.perannannya sangat penting bagi perubahan dan tingkat perkembangan desa.

    Secara umum, tingkat kemajuan suatu desa ditentukan oleh:
    1. Potensi desa, yang mencakup potensi sumber daya alam, masyarakat desa, dan aparatur     desa.
    2. Interaksi antara desa dan kota, desa satu dan desa yang lain, 
    3. Lokasi suatu desa terhadap daerah sekitarnya yang lebih maju. 

              Karang Taruna adalah organisasi kepemudaan di Indonesia. Karang Taruna merupakan wadah pengembangan generasi muda nonpartisan, yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat khususnya generasi muda di wilayah Desa / Kelurahan atau komunitas sosial sederajat, yang terutama bergerak dibidang kesejahteraan sosial. Sebagai organisasi sosial kepemudaan Karang Taruna merupakan wadah pembinaan dan pengembangan serta pemberdayaan dalam upaya mengembangkan kegiatan ekonomis produktif dengan pendayagunaan semua potensi yang tersedia dilingkungan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang telah ada. Sebagai organisasi kepemudaan, Karang Taruna berpedoman pada Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga dimana telah pula diatur tentang struktur penggurus dan masa jabatan dimasing-masing wilayah mulai dari Desa / Kelurahan sampai pada tingkat Nasional.

              Dalam UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan yang dimaksud tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan, memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang memerlukan kewenangan dalam menjalankan pelayanan kesehatan.
    Tenaga kesehatan yang diatur dalam Pasal 2 ayat (2) sampai dengan ayat (8) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan terdiri dari :
    1. Tenaga medis terdiri dari dokter dan dokter gigi;
    2. Tenaga keperawatan terdiri dari perawat dan bidan;
    3. Tenaga kefarmasian terdiri dari apoteker, analis farmasi dan asisten apoteker;
    4. Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan, entomolog kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan, administrator kesehatan dan sanitarian;
    5. Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien;
    6. Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis, okupasiterapis danterapis wicara;
    7. Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer, radioterapis, teknisi gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, othotik prostetik, teknisi tranfusi dan perekam medis
          Jumlah pemuda - pemudi Desa Tanjungsari yang memiliki profesi sebagai tenaga kesehatan sudah cukup banyak diantaranya ada yang berprofesi sebagai dokter, apoteker, asisten afoteker, perawat, bidan maupun tenaga kesehatan lainnya. berikut ini data tenaga kesehatan yang ada di Desa Tanjungsari   : 
  • Profesi Dokter 1 orang
  • Apoteker 2 orang
  • Assisten Apoteker 5 orang
  • Bidan 4 orang
  • Perawat 5 orang
  • Asper 3 orang 

B. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan diadakannya forum tenaga kesehatan ini diharapkan seluruh pemuda - pemudi desa tanjungsari yang mempunyai profesi dibidang kesehatan dapat lebih berperan aktif untuk membangun desa dalam bidang kesehatan tentunya. menjadikan forum ini sebagai media untuk bersosialisasi, beraktualisasi serta bertukar ilmu dan pengalaman dan dapat dijadikan lapangan pekerjaan sehingga dapat mengurangi angka pengangguran pemuda - pemudi yang memiliki profesi dibidang kesehatan. Dengan adanya forum tenaga kesehatan ini semoga dapat membantu memecahkan masalah - masalah kesehatan yang ada di Desa Tanjungsari sehingga masyarakat akan lebih meningkat derajat kesehatannnya.

C. Bentuk Kegiatan 
  • Menghimpun dan mengakomodir serta memetakan tenaga kesehatan
  • Pembentukan kelompok relawan tenaga kesehatan Desa Tanjungsari
  • Pembentukan dana sehat bagi seluruh masyarakat Desa Tanjungsari
  • Monitoring masalah - masalah kesehatan yang ada dimasyarakat
  • Bersama - sama dengan pihak terkait ( pemdes, puskesmas, dinkes, dll ) dalam pemecahan masalah kesehatan yang ada

D.Penutup 
Dengan adanya Forum tenaga kesehatan Desa Tanjungsari ini semoga rekan - rekan pemuda yang memiliki profesi dibidang kesehatan baik yang sudah bekerja maupun belum bekerja dapat saling memberikan informasi dan memberikan kesempatan untuk dapat mengembangkan ilmu yang diperolehnya selama pendidikan.

Sabtu, 11 Januari 2014

RUMAH TAHFIDZ SLANK FANS CLUB MAJALENGKA

Rumah Tahfidz Qur’an Dari Slank Untuk Para
Slankers
Slank bekerja sama dengan
PPPA Daarul Quran Media Hati merilis sebuah Album
Religi “Sinar Kebersamaan Vol. 2″. Album ini
merupakan kompilasi dari para penyanyi diantaranya
Marshanda, Rieka Roslan, Baron Soulmates, dan Ten
2 Five.
Lewat lagu yang berjudul ‘sedekah’, Slank
menyumbangkan royaltinya 100 % untuk
pembangunan rumah Tahfidz Qur-an dan pesantren
mini bagi para Slankers di semua basecamp Slank
Fans Club (SFC) di Indonesia.
“Slank confirmed akan menyumbangkan semua
royalti yang diperoleh dari penjualan album digital,
ring back tone,” kata Abdee, gitaris Slank, saat
menggelar jumpa media pada kamis (18/7/13) di
Potlot, Jakarta Selatan.
“Kita kasih lagu ‘Sedekah’ dan kita sedekahin
semuanya,” kata Bimbim.
Slank berharap rumah Tahfidz ini bisa bermanfaat
bagi para penggemarnya, “Apa salahnya punya
rumah tahfidz, supaya Slankers yang datang jauh-
jauh bisa sekalian belajar tentang agama Islam,” kata
Bimbim.
RUMAH TAHFIDZ SLANK FANS CLUB MAJALENGKA
 
Diawal tahun 2014,SFC Majalengka untuk pertama kalinya lounching Rumah Tahfidz  yang bertujuan sebagai pusat religi bagi para fans panatik SLANK.Diamana kegiatan ini murni khusus tentang silaturahmi dan belajar ilmu agama islam. Slank berharap para fans diseluruh indonesia dan didunia untuk dapat lebih mendekatkan diri terhadap Allah SWT, dengan tidak melupakan bersosialisasi antar sesama.
Semoga dengan adanya rumah tahfidz ini,SFC Majalengka dapat lebih solid dan tidak ada kata perceraian diantara SLANKER............
salam piss
abank sugir

Jumat, 15 Maret 2013

askep nefrotik sindrom by.abank sugir

asuhan keperawatan pada sindrom nefrotik


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
            Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein, penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema dan serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia). (Brunner & Suddarth, 2001).
            Insidens lebih tinggi pada laki-laki dari pada perempuan. Mortalitas dan prognosis anak dengan sindrom nefrotik bervariasi berdasarkan etiologi, berat, luas kerusakan ginjal, usia anak, kondisi yang mendasari, dan responnya trerhadap pengobatan. Sindrom nefrotik jarang menyerang anak dibawah usia 1 tahun. Sindrom nefrotik perubahan minimal ( SNPM ) menacakup 60 – 90 % dari semua kasus sindrom nefrotik pada anak. Angka mortalitas dari SNPM telah menurun dari 50 % menjadi 5 % dengan majunya terapi dan pemberian steroid. Bayi dengan sindrom nefrotik tipe finlandia adalah calon untuk nefrektomi bilateral dan transplantasi ginjal. ( Cecily L Betz, 2002 ).
            Berdasarkan hasil penelitian univariat terhadap 46 pasien, didapatkan insiden terbanyak sindrom nefrotik berada pada kelompok umur 2 – 6 tahun sebanyak 25 pasien (54,3%), dan terbanyak pada laki-laki dengan jumlah 29 pasien dengan rasio 1,71 : 1. Insiden sindrom nefrotik pada anak di Hongkong dilaporkan 2 - 4 kasus per 100.000 anak per tahun ( Chiu and Yap, 2005 ). Insiden sindrom nefrotik pada anak dalam kepustakaan di Amerika Serikat dan Inggris adalah 2 - 4 kasus baru per 100.000 anak per tahun. Di negara berkembang, insidennya lebih tinggi. Dilaporkan, insiden sindrom nefrotik pada anak di Indonesia adalah 6 kasus per 100.000 anak per tahun. (Tika Putri, http://one.indoskripsi.com ) Dengan adanya insiden ini, diharapkan perawat lebih mengenali tentang penyakit nefrotik dan mengaplikasikan rencana keperawatan terhadap pasien nefrotik.
  1. Tujuan Penulisan
1.    Tujuan Umum Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada penderita sindrom nefrotik.
2.    Tujuan Khusus
a.    Mahasiswa mampu menjelaskan definisi, penyebab,tanda gejala, diagnosa, dan penatalaksanaan medis dari penyakit sindrom nefrotik.
b.    Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan sindrom nefrotik.
c.    Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan sindrom nefrotik.
d.    Mahasiswa mampu melakukan rencana keperawatan pada pasien sindrom nefrotik.
e.    Mahasiswa mampu melakukan tindakan keperawatan baik independen, dependen, atau interdependen.
  1. Ruang Lingkup
Pembuatan makalah ini dibatasi oleh tinjauan teori mengenai asuhan keperawatan pada penderita sindrom nefrotik.
  1. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah, penulis menggunakan metode studi kepustakaan dengan menelaah literatur yang berkaitan dengan penulisan dari media cetak dan elektronik.
  1. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah terdiri dari tiga bab.
Bab I Pendahuluan.
Bagian dari pendahuluan ini meliputi Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Ruang Lingkup, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan.
Bab II Tinjauan Teori.
Bagian dari tinjauan teori ini meliputi Pengertian, Anatomi Fisiologi, Etiologi, Patofisiologi, Tanda dan Gejala, Pemeriksaan Diagnostik, Penatalaksanaan Medis, dan Asuhan Keperawatan dengan Pengkajian, Diagnosa Keperawatan, dan Intervensi di dalamnya.
Bab III Penutup.
Bagian dari penutup ini meliputi Kesimpulan dan Saran.

BAB II
TINJAUAN TEORI
  1. PENGERTIAN
1.    Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein, penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema dan serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia). (Brunner & Suddarth, 2001).
2.    Sindrom nefrotik adalah entitas klinis yang terjadi akibat kehilangan masif protein melalui urine (terutama albuminuria) yang menyebabkan hipoalbuminemia dan edema. (Abraham M. Rudolph, 2006).
3.    Nefrotik sindrom merupakan kelainan klinis yang ditandai dengan proteinuria, hipoalbuminemia, edema, dan hiperkolesterolmia. (Baughman, 2000).
  1. ANATOMI FISIOLOGI
            Ginjal merupakan salah satu bagian saluran kemih yang terletak retroperitoneal dengan panjang lebih kurang 11-12 cm, disamping kiri kanan vertebra. Pada umumnya, ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri oleh karena adanya hepar dan lebih dekat ke garis tengah tubuh. Batas atas ginjal kiri setinggi batas atas vertebra thorakalis XII dan batas bawah ginjal setinggi batas bawah vertebra lumbalis III.
            Parenkim ginjal terdiri atas korteks dan medula. Medula terdiri atas piramid-piramid yang berjumlah kira-kira 8-18 buah, rata-rata 12 buah. Tiap-tiap piramid dipisahkan oleh kolumna bertini. Dasar piramid ini ditutup oleh korteks, sedang puncaknya (papilla marginalis) menonjol ke dalam kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu menjadi kaliks mayor yang berjumlah 2 atau 3 ditiap ginjal. Kaliks mayor/minor ini bersatu menjadi pelvis renalis dan di pelvis renalis inilah keluar ureter.
            Korteks sendiri terdiri atas glomeruli dan tubuli, sedangkan pada medula hanya terdapat tubuli. Glomeruli dari tubuli ini akan membentuk Nefron. Satu unit nefron terdiri dari glomerolus, tubulus proksimal, loop of henle, tubulus distal (kadang-kadang dimasukkan pula duktus koligentes). Tiap ginjal mempunyai lebih kurang 1,5-2 juta nefron berarti pula lebih kurang 1,5-2 juta glomeruli.
            Ginjal berfungsi sebagai salah satu alat ekskresi yang sangat penting melalui ultrafiltrat yang terbentuk dalam glomerulus. Terbentuknya ultrafiltrat ini sangat dipengaruhi oleh sirkulasi ginjal yang mendapat darah 20% dari seluruh cardiac output.    
1.    Faal glomerolus
Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang dapat masuk ke tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih besar dibanding tekanan hidrostatik intra kapiler dan tekanan koloid osmotik. Volume ultrafiltrat tiap menit per luas permukaan tubuh disebut glomerula filtration rate (GFR). GFR normal dewasa : 120 cc/menit/1,73 m2 (luas pemukaan tubuh). GFR normal umur 2-12 tahun : 30-90 cc/menit/luas permukaan tubuh anak.
2.    Tubulus
Fungsi utama dari tubulus adalah melakukan reabsorbsi dan sekresi dari zat-zat yang ada dalam ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus.
a)    Tubulus Proksimal
Tubulus proksimal merupakan bagian nefron yang paling banyak melakukan reabsorbsi yaitu ± 60-80 % dari ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Zat-zat yang direabsorbsi adalah protein, asam amino dan glukosa yang direabsorbsi sempurna. Begitu pula dengan elektrolit (Na, K, Cl, Bikarbonat), endogenus organic ion (citrat, malat, asam karbonat), H2O dan urea. Zat-zat yang diekskresi asam dan basa organik.
b)    Loop of henle
Loop of henle yang terdiri atas decending thick limb, thin limb dan ascending thick limb itu berfungsi untuk membuat cairan intratubuler lebih hipotonik.

c)    Tubulus distalis
Mengatur keseimbangan asam basa dan keseimbangan elektrolit dengan cara reabsorbsi Na dan H2O dan ekskresi Na, K, Amonium dan ion hidrogen.
d)    Duktus koligentis
Mereabsorbsi dan menyekresi kalium. Ekskresi aktif kalium dilakukan pada duktus koligen kortikal dan dikendalikan oleh aldosteron.
  1. ETIOLOGI
Penyebab nefrotik sindrom dibagi menjadi 3, yaitu:
1.    Primer
a)    Glomerulonefritis
b)    Nefrotik sindrom perubahan minimal
2.    Sekunder
a)    Diabetes Mellitus
b)    Sistema Lupus Erimatosis
c)    Amyloidosis
3.    Sindrom nefrotik idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
  1. PATOFISIOLOGI
            Glomeruli adalah bagian dari ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah. Pada nefrotik sindrom, glomeruli mengalami kerusakan sehingga terjadi perubahan permeabilitas karena inflamasi dan hialinisasi sehingga hilangnya plasma protein, terutama albumin ke dalam urine. Meskipun hati mampu meningkatkan produksi albumin, namun organ ini tidak mampu untuk terus mempertahankannya. Jika albumin terus menerus hilang maka akan terjadi hipoalbuminemia.
            Hilangnya protein menyebabkan penurunan tekanan onkotik yang menyebabkan edema generalisata akibat cairan yang berpindah dari sistem vaskuler ke dalam ruang cairan ekstraseluler. Penurunan volume cairan vaskuler menstimulli sistem renin-angio-tensin, yang mengakibatkan disekresinya hormon anti diuretik (ADH) dan aldosteron menyebabkan reabsorbsi natrium (Na) dan air sehingga mengalami peningkatan dan akhirnya menambah volume intravaskuler.
            Hilangnya protein dalam serum menstimulasi sintesis LDL ( Low Density Lipoprotein) dalam hati dan peningkatan kosentrasi lemak dalam darah (hiperlipidemia). Adanya hiperlipidemia juga akibat dari meningkatnya produksi lipoprotein dalam hati yang timbul oleh karena kompensasi hilangnya protein, dan lemak akan banyak dalam urin ( lipiduria ). (Toto Suharyanto, 2009).
            Menurunya respon immun karena sel immun tertekan, kemungkinan disebabkan oleh karena hipoalbuminemia, hiperlipidemia, atau defesiensi seng. Penyebab mencakup glomerulosklerosis interkapiler, amiloidosis ginjal, penyakit lupus erythematosus sistemik, dan trombosis vena renal.



 



MANIFESTASI KLINIS
1.    Tanda paling umum adalah peningkatan cairan di dalam tubuh, diantaranya adalah:
a)    Edema periorbital, yang tampak pada pagi hari.
b)    Pitting, yaitu edema (penumpukan cairan) pada kaki bagian atas.
c)    Penumpukan cairan pada rongga pleura yang menyebabkan efusi pleura.
d)    Penumpukan cairan pada rongga peritoneal yang menyebabkan asites.
2.    Hipertensi (jarang terjadi), karena penurunan voulume intravaskuler yang mengakibatkan menurunnya tekanan perfusi renal yang mengaktifkan sistem renin angiotensin yang akan meningkatkan konstriksi pembuluh darah.
3.    Beberapa pasien mungkin mengalami dimana urin berbusa, akibat penumpukan tekanan permukaan akibat proteinuria.
4.    Hematuri
5.    Oliguri (tidak umum terjadi pada nefrotik sindrom), terjadi karena penurunan volume cairan vaskuler yang menstimulli sistem renin-angio-tensin, yang mengakibatkan disekresinya hormon anti diuretik (ADH)
6.    Malaise
7.    Sakit kepala
8.    Mual, anoreksia
9.    Irritabilitas
10.  Keletihan
  1. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.    Laboratorium
Pemeriksaan sampel urin
Pemeriksaan sampel urin menunjukkan adanya proteinuri (adanya protein di dalam urin).
Pemeriksaan darah
a.    Hipoalbuminemia dimana kadar albumin kurang dari 30 gram/liter.
b.    Hiperkolesterolemia (kadar kolesterol darah meningkat), khususnya peningkatan Low Density Lipoprotein (LDL), yang secara umum bersamaan dengan peningkatan VLDL.
c.    Pemeriksaan elektrolit, ureum dan kreatinin, yang berguna untuk mengetahui fungsi ginjal.
2.    Pemeriksaan lain
Pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan apabila penyebabnya belum diketahui secara jelas, yaitu:
a.    Biopsi ginjal (jarang dilakukan pada anak-anak ).
b.    Pemeriksaan penanda Auto-immune (ANA, ASOT, C3, cryoglobulins, serum electrophoresis).
  1. KOMPLIKASI
1.    Trombosis vena, akibat kehilangan anti-thrombin 3, yang berfungsi untuk mencegah terjadinya trombosis vena ini sering terjadi pada vena renalis. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan pemberian heparin.
2.    Infeksi (seperti haemophilus influenzae and streptococcus pneumonia), akibat kehilangan immunoglobulin.
3.    Gagal ginjal akut akibat hipovolemia. Disamping terjadinya penumpukan cairan di dalam jaringan, terjadi juga kehilangan cairan di dalam intravaskuler.
4.    Edema pulmonal, akibat kebocoran cairan, kadang-kadang masuk kedalam paru-paru yang menyebabkan hipoksia dan dispnea.
  1. PENATALAKSANAAN MEDIS
Suportif
1.    Menjaga pasien dalam keadaan tirah baring
2.    Memonitor dan mempertahankan volume cairan tubuh yang normal.
a.    Memonitor urin output
b.    Pemeriksaan tekanan darah secara berkala
c.    Pembatasan cairan, sampai 1 liter
3.    Memonitor fungsi ginjal
a.    Lakukan pemeriksaan elektrolit, ureum, dan kreatinin setiap hari.
b.    Hitung GFR/LFG setiap hari.
Klasifikasi atas dasar derajat penyakit, dibuat atas dasar LFG, yang dihitung menggunakan rumus Kockcroft-Gault sebagai berikut:
                                   
LFG (ml/menit/1,73m2)=                                            
               
 *pada perempuan dikali 0,85
Dasar Derajat Penyakit
Derajat
Penjelasan
LFG (ml/mn/1.73m2)
1
2
3
4
5
Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau
Kerusakan ginjal dengan LFG ringan
Kerusakan ginjal dengan LFG sedang
Kerusakan ginjal dengan LFG berat
Gagal ginjal
≥ 90
60-89
30-58
15-29
< 15 atau dialisis
(Ilmu Penyakit Dalam Jilid I, 2006)
c.    Mencegah komplikasi
d.    Pemberian transfusi albumin secara umum tidak dipergunakan Karena efek kehilangan hanya bersifat sementara.
Tindakan khusus
1.    Pemberian diuretik (Furosemid IV).
2.    Pemberian imunosupresi untuk mengatasi glomerulonefritis (steroids, cyclosporin)
3.    Pembatasan glukosa darah, apabila diabetes mellitus
4.    Pemberian albumin-rendah garam bila diperlukan
5.    Pemberian ACE inhibitor: untuk menurunkan tekanan darah.
6.    Diet tinggi protein; cegah makanan tinggi garam
7.    Antibiotik profilaktik spektrum luas untuk menurunkan resiko infeksi sampai anak mendapat pengurangan dosis steroid secara bertahap
8.    Irigasi mata/krim oftalmik untuk mengatasi iritasi mata pada edema yang berat
  1. ASUHAN KEPERAWATAN
1.    Pengkajian
Riwayat atau adanya faktor-faktor resiko:
a.    Penyakit kompleks imun seperti sistemik lupus eritematosus dan skleroderma
b.    Pemajanan terhadap obat nefrotoksik atau bahan seperti antimikrobial, agen anti-inflamasi, agen kemoterapi, media kontras, pestisida, obat narkotika, atau logam berat.
c.    Infeksi tenggorok atau kulit sebelumnya dengan streptococcus beta-hemolitik atau hepatitis
Pemeriksaan fisik berdasarkan survei umum:
a.    Edema, secara umum tampak pada wajah (periorbital) dan kaki tetapi dapat tampak sebagai asites, edema paru, atau efusi pleural
b.    Hipertensi ringan
c.    Azotemia
Peningkatan kreatinin serum di atas 2 mg/100ml dan nitrogen urea di atas 25 mg/100 ml.
d.    Hematuria
e.    Penurunan haluaran urine dengan berat jenis
f.     Urine gelap (warna teh).
Berkurangnya volume intravaskuler merangsang sekresi renin yang memicu aktivitas sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) serta ADH (antidiuretik hormon) sehingga mengakibatkan retensi natrium dan air, sehingga produksi urine menjadi berkurang, pekat dan kadar natrium rendah.
g.    Peningkatan berat badan karena retensi cairan
h.    Sakit kepala, peka, atau perubahan ringan pada mental karena hipertensi
Pemeriksaaan lain-lain
a.    Pemerikasaan Esbach: proteinuria terutama albumin sebanyak 10-15 gram/hari.
b.    Hipoalbuminemia dan globulin normal atau meningkat.
c.    Hipercolesterolemia.
d.    Fibrinogen meningkat dan kadar ureum normal.
e.    Kadang-kadang mengalami anemia defisiensi besi.
2.    Diagnosa Keperawatan
a.    Kelebihan volume cairan berhubungan dengan akumulasi cairan di dalam jaringan.
b.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh yang menurun.
c.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nafsu makan (anoreksia).
d.    Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema, penurunan pertahanan tubuh.
e.    Resiko kehilangan volume cairan intravaskuler berhubungan dengan kehilangan protein, cairan dan edema.
f.     Gangguan perfusi jaringan perifer yang b.d hipertensi. (Kathleen Morgan, 2007).
g.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan
h.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan
i.      Defisit pengetahuan yang b.d perawatan di rumah. (Kathleen Morgan, 2007).
3.    Intervensi & Rasionalisasi
Kelebihan volume cairan berhubungan dengan akumulasi cairan di dalam jaringan. (Doenges, 2001)
Tujuan: Kelebihan volume cairan terkontrol
Kriteria Hasil:
1)    Pasien tidak menunjukan tanda-tanda akumulasi cairan.
2)    Pasien mendapatkan volume cairan yang tepat.
INTERVENSI
RASIONAL
Pantau asupan dan haluaran cairan setiap pergantian
Pemantauan membantu menentukan status cairan pasien.
Timbang berat badan tiap hari
Penimbangan berat badan harian adalah pengawasan status cairan terbaik. Peningkatan berat badan lebih dari 0,5 kg/hari diduga ada retensi cairan.
Programkan pasien pada diet rendah natrium selama fase edema
Suatu diet rendah natrium dapat mencegah retensi cairan
Kaji kulit, wajah, area tergantung untuk edema. Evaluasi derajat edema (pada skala +1 sampai +4).
Edema terjadi terutama pada jaringan yang tergantung pada tubuh.
Awasi pemerikasaan laboratorium, contoh:
BUN, kreatinin, natrium, kalium, Hb/ht, foto dada
Mengkaji berlanjutnya dan penanganan disfungsi/gagal ginjal. Meskipun kedua nilai mungkin meningkat, kreatinin adalah indikator yang lebih baik untuk fungsi ginjal karena tidak dipengaruhi oleh hidrasi, diet, dan katabolisme jaringan.
Berikan obat sesuai indikasi
Diuretik, contoh furosemid (lasix), mannitol (Os-mitol;
Diberikan dini pada fase oliguria untuk mengubah ke fase nonoliguria, untuk melebarkan lumen tubular dari debris, menurunkan hiperkalimea, dan meningkatkan volume urine adekuat
Antihiperetensif,contoh klonidin (Catapres); metildopa(Aldomet);prazosin(Minipress)
Mungkin diberikan untuk mengatasi hipertensi dengan efek  berbalikan dari penurunan aluran darah ginjal,dan/atau kelebihan volume sirkulasi



Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh yang menurun. (Kathleen Morgan, 2007)
Tujuan: Infeksi tidak terjadi
Kriteria hasil: Tak mengalami tanda / gejala infeksi
INTERVENSI
RASIONAL
Pantau pasien setiap hari untuk detensi tanda serta gejala infeksi, termasuk batuk, demam, hidung tersumbat, drainase purulen, dan nyeri tenggorok.
Pemantauan memastikan pengenalan dini dan terapi yang tepat terhadap infeksi
Kaji intregitas kulit.
Ekskorisi akibat gesekan dapat menjadi infeksi sekunder.
Awasi tanda vital untuk demam, peningkatan frekuensi/kedalaman pernapasan
Reaksi demam adanya indikator infeksi lebih lanjut
Tingkatkan cuci tangan yang baik pada pasien dan perawat.
Menurunkan resiko kontaminasi silang.
Pertahankan prinsip aseptik dalam setiap tindakan keperawatan yang berhubungan dengan area invasive.
Membatasi introduksi bakteri kedalam tubuh.
Jangan izinkan seorang pun yang mengidap infeksi akut untuk mengunjungi pasien
Keadaan immunosupresi membuat pasien  rentan terhadap infeksi.
Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
Membantu pemilihan pengobatan infeksi paling efektif.
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan nafsu makan (anoreksia). (Kathleen Morgan, 2007).
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil : Mempertahankan berat badan yang diharapkan
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji / catat pemasukan diet.
Membantu dan mengidentifikasi defisiensii dan kebutuhan diet.
Timbang BB tiap hari.
Perubahan kelebihan 0,5 kg dapat menunjukkan perpindahan keseimbangan cairan.
Tawarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan .
Meningkatkan nafsu makan .
Berikan makanan sedikit tapi sering.
meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik
Berikan diet tinggi protein dan rendah garam.
Memenuhi kebutuhan protein, yang hilang bersama urine.
Berikan makanan yang disukai dan menarik
Pasien cenderung mengonsumsi lebih banyak porsi makan jika ia diberi beberapa makanan kesukanannya.
Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh: BUN, albumin serum, transferin, natrium, dan kalium.
Indikator kebutuhan nutrisi, pembatasan, dan efektivitas terapi.
Resiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan edema, penurunan pertahanan tubuh. (Kathleen Morgan, 2007).
Tujuan : Kerusakan integritas kulit tidak terjadi
Kriteria hasil : Menunjukkan perilaku untuk mencegah kerusakan kulit.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi, dan sensasi.
Menentukan garis dasar dimana perubahan pada status dapat dibandingkan dan melakukan intervensi yang tepat
Berikan perawatan kulit yang tepat, termasuk mandi harian dengan menggunakan sabun pelembab, masase, dan penggantian linen serta pakaian kotor.
Perawatan kulit yang baik dapat menjaga kulit bebas dari bahan pengiritasi dan membantu mencegah kerusakan kulit.
Bersihkan kelopak mata yang mengalami edema
Meningkatkan rasa nyaman pasien
Rubah posisi tidur sesering mungkin, pertahankan kesejajaran tubuh.
Mengurangi stress pada titik tekanan, meningkatkan aliran darah ke jaringan da meningkatkan proses kesembuhan
Topang atau tinggikan area-area yang mengalami edema, seperti lengan, tungkai, dan skrotum, dengan menggunakan bantal atau linen tempat tidur. Gunakan bedak pada area ini.
Meninggikan atau menopang daerah yang edema dapat mengurangi edema. Menggnakan bedak dapat mengurangi kelembapan dan gesekan yang ditimbulkan ketika permukaan tubuh saling bergesek.
Tingkatkan jumlah aktivitas pasien, seiring edema mereda
Peningkatan aktivitas membantu mencegah kerusakan kulit akibat tirah baring yang lama
Resiko kehilangan volume cairan intravaskuler berhubungan dengan kehilangan protein, cairan dan edema (Suriadi, 2006).
Tujuan: Resiko kehilangan cairan tidak terjadi
Kriteria Hasil: Tidak ditemukannya atau tanda-tandanya  kehilangan cairan intravaskuler seperti:
  1. Masukan dan keluaran seimbang
  2. Tanda vital yang stabil
  3. Elektrolit dalam batas normal
  4. Hidrasi adekuat yang ditunjukkan dengan turgor kulit yang normal
INTERVENSI
RASIONALISASI
Awasi TTV
Hipotensi ortostatik dan takikardi indikasi hipovolemia.
Kaji masukan dan haluaran cairan. Hitung kehilangan tak kasat mata.
Membantu memperkirakan kebutuhan penggantian cairan. Pemasukan cairan harus memperkirakan kehilangan memaui urine, nasogastik/drainase luka, dan kehilangan tak kasat mata (contoh keringatan, dan metabolisme)
Kaji membran mukosa mulut  dan elastisitas turgor kulit
Membran mukosa kering, turgor kulit buruk, dan penurunan nadi dalah indikator dehidrasi
Berikan cairan sesuai indikasi ; misalnya albumin
penggantian cairan tergantung dari berapa banyaknya cairan yang hilang atau dikeluarkan.
Berikan cairan parenteral sesuai dengan petunjuk
Pemberian cairan parenteral diperlukan, dengan tujuan mempertahankann hidrasi yang adekuat.
Awasi pemerikasaan laboratorium, contoh protein (albumin)
Mengkaji untuk penanganan medis berikutnya

Gangguan perfusi jaringan perifer yang b.d hipertensi. (Kathleen Morgan, 2007).
Tujuan: Pasien dapat mempertahankan perfusi jaringan yang normal
kriteria hasil: tekanan darah normal, tidak ada sakit kepala dan kejang, serta waktu pengisian kapiler.
Intervensi
Rasional
Pantau tekanan darah pasien setiap 4 jam
Pemantauan memastikan pengenalan dini dan terapi hipertensi yang tepat.
Lakukan kewaspadaan serangan kejang berikut.
1.    Pertahankan jalan napas melalui mulut dan persiapkan peralatan pengisap dekat sisi tempat tidur pasien
2.    Sematkan tanda di atas tempat tidur pasien dan pintu kamar, yang berisi peringatan untuk semua petugas kesehatan tentang status kejang pasien
Hipertensi berat dan hipoksia serebral meningkatkan resiko kejang.
Beri obat-obatan anti hipertensi sesuai program
Pasien mungkin membutuhkan obat anti hipertensi untuk mengurangi tekanan darah dan mengurangi resiko, koplikasi, termasuk kejang, stroke, gagal gantung, dan sakit kepala
Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kecacatan karena penyakit. (Toto Suharyanto, 2009).
Tujuan             : pasien dapat menggungkapkan kekuatirannya atas penolakan oleh orang lain karena perubahan kulit dari pembedahan/ terapi radiasi.
Kriteria hasil    : mendiskusikan strategi-strategi untuk mengatasi perubahan pada citr
a tubuh.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji pengetahuan pasien terhadap adanya potensi kecacatan yangberhubungan dengan pembedahan dan perubahan.
memberikan informasi untuk memformulasikan perencanaan.
Pantau kemampuan pasien untuk melihat perubahan bentuk dirinya.
ketidakmampuan untuk melihat bagian tubuhnya yang terkena mungkin mengindikasikan kesulitan dalam koping.
Dorong pasien untuk mendiskusikan perasaan mengenai perubahan penampilan
memberikan jalan untuk mengekpresikan dirinya.
Diskusikan pilihan untuk rekontruksikan dan cara-cara untuk membuat penampilan yang kurang menjadi menarik.
meningkatkan control diri sendiri atas kehilangan.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan (Toto Suharyanto, 2009).
Tujuan : mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan
Kriteria hasil :
• Terjadi peningkatan mobilitas.
INTERVENSI
RASIONAL
Kaji kemampuan klien melakukan aktivitas
sebagai pengkajian awal aktivitas klien.
Tingkatkan tirah baring / duduk.
meningkatkan istirahat dan ketenangan klien, posisi telentang meningkatkan filtrasi ginjal dan menurunkan produksi ADH sehingga meningkatkan diuresis.
Ubah posisi dengan sering.
pembentukan edema, nutrisi melambat, gangguan pemasukan nutrisi dan imobilisasi lama merupakan stressor yang mempengaruhi intregitas kulit.
Berikan dorongan untuk beraktivitas bertahap. 
melatih kekuatan otot sedikit demi sedikit.
Ajarkan teknik penghematan energi contoh duduk, tidak berdiri.
menurunkan kelelahan.
Berikan perawatan diri sesuai kebutuhan klien.
memenuhi kebutuhan perawatan diri klien selama intoleransi aktivitas.
                                                    

Defisit pengetahuan yang b.d perawatan di rumah. (Kathleen Morgan, 2007).
Tujuan: Pasien menunjukkan pemahaman mengenai perawatan di rumah.
Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan pemahaman tentang intruksi perawatan di rumah
Intervensi
Rasional
Kaji pemahaman keluarga dan pasien  tentang penyakit dan terapi yang di programkan
Pengkajian semacam ini merupakan dasar untuk memulai penyuluhan
Ajarkan keluarga pentingnya mempoertahankan pasien pada diet rendah natrium
Mengurangi asupan natrium pasien  dapat mencegah retensi cairan
Nasihati keluarga  bahwa pasien mungkin mengalami perubahan suasana hati dan peningkatan iritabilitas. Pastikan mereka mengalami bahwa hal ini normal, tetapi nasihati mereka untuk tidak membiarkan pasien  menjadi manipulative.
Perubahan suasana hati dan iritabilitas umumnya terjdi akibat rawat inap di rumah sakit dan penggunaan obat.
Intruksikan keluarga tidak membatasi aktifitas pasien kecuali pasien  saangat lelah
Pasien  yang mengalami sindrom nefrotik biasanya dapat menoleransi peningkatan aktifitas, setelah fase edema berlalu.
Ajarkan keluarga cara menguji urine pasienuntuk kandungan protein di dalamnya.
Suatu penungkatan kandungan protein dalam urine dapat mengindikasikan kebutuhan akan perubahan dalam medikasi.

BAB III
PENUTUP
  1. KESIMPULAN
Sindrom nefrotik merupakan gangguan klinis ditandai oleh peningkatan protein, penurunan albumin dalam darah (hipoalbuminemia), edema dan serum kolesterol yang tinggi dan lipoprotein densitas rendah (hiperlipidemia). (Brunner & Suddarth, 2001).
Etiologi nefrotik sindrom dibagi menjadi 3, yaitu primer (Glomerulonefritis dan nefrotik sindrom perubahan minimal), sekunder (Diabetes Mellitus, Sistema Lupus Erimatosis, dan Amyloidosis), dan idiopatik (tidak diketahui penyebabnya). Tanda paling umum adalah peningkatan cairan di dalam tubuh. Tanda lainnya seperti hipertensi (jarang terjadi), oliguri (tidak umum terjadi pada nefrotik sindrom), malaise, mual, anoreksia, irritabilitas, dan keletihan.
Sehingga masalah keperawatan yang mungkin muncul adalah kelebihan volume cairan berhubungan, resiko tinggi infeksi, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan, resiko tinggi kerusakan integritas kulit, resiko kehilangan volume cairan intravaskuler, gangguan perfusi jaringan perifer, gangguan citra tubuh, intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan, dan defisit pengetahuan.
  1. SARAN
Demikian makalah yang kami sampaikan. Kami berharap agar makalah yang kami buat ini dapat bermanfaat bagi para dosen, teman-teman dan pembaca sekalian.